Siang ini, aku cek email dan mendapatkan sebuah kabar dari turang aku.. Turang ini sebaya dengan aku, anaknya sangat smart dan murah hati. Apa yang membuat aku ingin sekali menulis tentang turang ini adalah, karena mudanya dan juga hatinya.
Beberapa waktu ini, dia memang tidak terlihat. Beberapa waktu yang lalu aku sms dia, menanyakan apakah dia di Medan. Dia balas smsku dengan nomor malaysia, dan bilang kalau dia sedang di Penang. Turangku ini memang beberapa waktu yang lalu ada penyakit di tubuhnya yang sebenarnya sudah pernah divonis sembuh dan dia tinggal perlu beberapa kali lagi ceckup ke Penang. Karena dia tidak berada di Medan, aku tidak membalas smsnya.
Hari ini dia kirim email, menceritakan kalau beberapa waktu lalu ketika dia ceckup ke penang, hasilnya kurang mengenakkan. Dokter menduga penyakit lamanya kambuh lagi. Karena hasil scan mengatakan penyakit lamanya kambuh lagi, dia mencari dokter di Kuala Lumpur dan Singapore untuk memeriksa dirinya, karena saat ini secara fisik dia merasa kondisinya stabil. Saat ini sedang menunggu hasil ceckup. Dan bulan depan dia berencana ceckup lagi.
Dengan kondisi seperti ini, dalam emailnya di mengatakan kepadaku kalau dua orang anak mahasiswa yang sedang dia biayai biaya kursus bahasa Inggrisnya akan dia teruskan menolong kedua anak itu. Sampai mereka lulus kuliah dibayar uang kursusunya, kecuali mereka berhenti kursus, katanya. Tur, aku titip lewat kam untuk membayar biaya kursus itu katanya. Membaca email ini, sungguh haru hatiku.
Dalam keadaan kondisi pergumulan yang besar, turang ini masih mengingat memberi untuk orang lain.
Aku berdoa supaya kam cepat sembuh ya Tur... Masih banyak hal yang kam bisa lakukan dalam usia mudandu ini yang pasti berarti bagi banyak orang.
Dukung doa buat turang aku ini ya nake. Penyakitnya yang lama adalah kanker getah bening.
bujur melala
Nomi
Thursday, August 12, 2010
Sunday, June 06, 2010
Pembibitan Pohon yang dilakukan KPB GBKP....
Tahun 2010 ini salah satu program Komisi Penanggulangan Bencana (KPB) adalah melakukan pembibitan pohon yang bertempat di lokasi Taman Jubelium GBKP Sukamakmur. Saat ini yang sudah dibibitkan adalah pohon mahoni dan pohon Ingul (suren). Pembibitan mahoni bisa dilakukan langsung ke polibed, dimana biji mahoni langsung dimasukkan satu-satu ke dalam polibed. Sangat menyenangkan karena sudah ada sekitar 2000 bibit pohon mahoni tumbuh.
Pembibitan pohon ingul dilakukan dengan cara penyemaian terlebih dahulu. Hal ini karena biji ingul sangat kecil. Dengan mencari kesana-kemari, kemarin KPB GBKP sukses membeli benih ingul sebanyak 2kg. Kemudian benih yang sudah dibeli ini dilakukan penyemaian di retreat center. Usia dua minggu sejak penyemaian, saat ini benih ingul yang disemai sudah kelihatan banyak yang tumbuh seperti toge, berwarna putih. Penyemaian ingul memiliki cara tersendiri, tidak bisa dilakukan seperti penyemaian bibit biasa. Bisa-bisa tidak tumbuh.
Kemarin bang Eben staf PARPEM GBKP, menceritakan kalau PARPEM menyemaikan benih ingul dan nggak tumbuh. Jadi sangat menggembirakan ketika bisa melihat benih ingul yang disemai mulai berkecambah.
Melihat bibit mahoni yang sudah mulai setinggi 15-20 cm. KPB akan segera melaporkan ke Kabid Diakonia GBKP bahwa bibit mahoni yang sudah tumbuh ini bisa disalurkan kepada jemaat-jemaat GBKP yang sudah ada di daftar waiting list sebagai penerima pohon.
Ke depan masih banyak yang harus dilakukan KPB GBKP, karena untuk tahun 2010 ini target bibit pohon yang mau dihasilkan adalah 100 ribu pohon. Ini adalah langkah awal untuk ke depannya bisa semakin banyak yang dilakukan KPB.
Monday, May 10, 2010
pembibitan pohon
Senin yang sibuk, setelah Sabtu - Minggu kemarin di RC melakukan pembibitan pohon bersama 25 orang ASIGANA GBKP. Hari ini rapat promosi, lanjut ngawas ujian dan kemudian ke bank saat jam istirahat. Listrik mati dan nggak terasa sudah jam 15.00. Pak Pdt. J Keliat, ketua KPB sudah sampai di Neumann. Setengah jam ngobrol mengenai kegiatan penyaluran bibit pohon yang sudah dilakukan sejak tahun 2008, dk. Aswan gabung dan kita mulai rapat secara resmi pukul 16.00.
Friday, April 23, 2010
Hidup di zaman yang penuh tantangan...
Bekerja dimanapun akan memberikan tantangan tersendiri. Tantangan itu akan membuat kita mengalami banyak kesulitan yang bisa mematikan semangat atau bisa membangkitkan semangat. Melarikan diri dari kesulitan itu adalah kebodohan. Bukan kepandaian. Bagaimana mengatasi kesulitan membutuhkan waktu untuk internalisasi, untuk melihat situasi dengan lebih objektif dan juga melupakan semua yang pernah terjadi yang bisa menarik kita terus tenggelam dalam situasi yang mengikat kita supaya tidak bergerak maju. Kalau perlu tidak usah lagi diceritakan pun hal-hal yang mungkin merugikan, atau menyakitkan yang terjadi.
Hal ini bisa terjadi dimana saja kita ada berinteraksi. Bukan hanya di tempat bekerja, namun juga di organisasi atau bahkan di tengah-tengah keluarga kita sendiri.
Pohon yang di tanam di tempat yang tidak berangin, akarnya selalu dangkal. Pohon yang di tanam di pinggir laut dengan angin laut yang luar biasa keras sering menghantam, akarnya akan dalam, kuat dan kokoh. Bukankah adalah kesempatan untuk menambah niat dan keberanian untuk mengatasi kesulitan? Bukankah disitu kita diuji ?
Tuhan memberikan ketabahan kepada manusia untuk melawan segala ujian. Hanya orang-orang yang melaksanakan kehendak Allah yang akan mampu melawan kesulitan zaman ini. Bukan hanya melawannya, bahkan juga melampaui zaman. Karena ia mampu melihat dengan jelas kehadiran Allah dalam hidupnya. Maka ia tidak akan dihanyutkan zaman ini, namun ia hidup untuk mempengaruhi zaman ini.
Saya akan berjuang untuk hidup hanyut dalam arus zaman ini. Terutama arus situasi pekerjaan dosen di Medan. Saya amati, dosen-dosen di Medan lebih banyak yang mencari penghasilan dengan mengajar di banyak kampus. Bukankah itu akan sangat melelahkan ? dari pagi sampai malam kejar tayang mengajar kemana-mana. Saya akan berjuang untuk tetap bisa menjadi dosen seperti dosen-dosen saya dulu di STT Telkom dan di ITB. Saya akan berjuang meniru mereka di Medan ini.
Mungkin tidak mudah supaya tidak hanyut dengan situasi zaman dimana kita berada. Tapi kita harus tetap berdiri tegak, berpegang pada kehendak Allah dan mengerti rencanaNya, lalu di terapkan dalam diri. Bukankah orang yang seperti ini yang akan Tuhan pakai di dalam kerajaanNya ? dan orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh mereka di sekitar kita ? Mereka akan meneruskan semangat kuasa Roh Kudus di dalam zamannya.
Berjuang Nom... Semangat...semangat...semangat...
Tadi aku nitip lewat Pak Eddy Kembaren renungan untuk momo di GBKP KM 4 Medan supaya diberikan ke Pdt. Jhon SInulingga atau ke kantor RG. KM 4 Medan. Menambah kesulitan hidup untuk komitmen bisa menulis renungan. Mencoba memberikan arti dimana diri hadir...
Medan, 23 April 2010...sambil menunggu waktu berangkat ke Gelora Kasih Sukamakmur melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Hal ini bisa terjadi dimana saja kita ada berinteraksi. Bukan hanya di tempat bekerja, namun juga di organisasi atau bahkan di tengah-tengah keluarga kita sendiri.
Pohon yang di tanam di tempat yang tidak berangin, akarnya selalu dangkal. Pohon yang di tanam di pinggir laut dengan angin laut yang luar biasa keras sering menghantam, akarnya akan dalam, kuat dan kokoh. Bukankah adalah kesempatan untuk menambah niat dan keberanian untuk mengatasi kesulitan? Bukankah disitu kita diuji ?
Tuhan memberikan ketabahan kepada manusia untuk melawan segala ujian. Hanya orang-orang yang melaksanakan kehendak Allah yang akan mampu melawan kesulitan zaman ini. Bukan hanya melawannya, bahkan juga melampaui zaman. Karena ia mampu melihat dengan jelas kehadiran Allah dalam hidupnya. Maka ia tidak akan dihanyutkan zaman ini, namun ia hidup untuk mempengaruhi zaman ini.
Saya akan berjuang untuk hidup hanyut dalam arus zaman ini. Terutama arus situasi pekerjaan dosen di Medan. Saya amati, dosen-dosen di Medan lebih banyak yang mencari penghasilan dengan mengajar di banyak kampus. Bukankah itu akan sangat melelahkan ? dari pagi sampai malam kejar tayang mengajar kemana-mana. Saya akan berjuang untuk tetap bisa menjadi dosen seperti dosen-dosen saya dulu di STT Telkom dan di ITB. Saya akan berjuang meniru mereka di Medan ini.
Mungkin tidak mudah supaya tidak hanyut dengan situasi zaman dimana kita berada. Tapi kita harus tetap berdiri tegak, berpegang pada kehendak Allah dan mengerti rencanaNya, lalu di terapkan dalam diri. Bukankah orang yang seperti ini yang akan Tuhan pakai di dalam kerajaanNya ? dan orang-orang seperti inilah yang dibutuhkan oleh mereka di sekitar kita ? Mereka akan meneruskan semangat kuasa Roh Kudus di dalam zamannya.
Berjuang Nom... Semangat...semangat...semangat...
Tadi aku nitip lewat Pak Eddy Kembaren renungan untuk momo di GBKP KM 4 Medan supaya diberikan ke Pdt. Jhon SInulingga atau ke kantor RG. KM 4 Medan. Menambah kesulitan hidup untuk komitmen bisa menulis renungan. Mencoba memberikan arti dimana diri hadir...
Medan, 23 April 2010...sambil menunggu waktu berangkat ke Gelora Kasih Sukamakmur melakukan pengabdian kepada masyarakat.
Tuesday, March 16, 2010
Karunia, ayo gali dan kembangkan...
Nongkrong di buttercup swissbell hotel, pilih tempat duduk dipinggir dengan view air mancur. Suara air jatuh yang gemericik memecah udara dan membaur dengan suara musik yang mengalun. Kulihat suamiku makin keriting,mungkin capek menghadapi istri yang 'sedikit' keras kepala. Kutanya apakah dia bete? dia bilang nggak. Apakah sedang jutek? dia mengangguk. Apakah mau pulang aja ? dia bilang nggak.. Hmmm... aku sayang kam.
sebelum waktu nongkrong ini usai. Aku ingin meninggalkan jejak. Jejak-jejak yang dipenuhi gemercik air. Suatu bagian dalam perjalanan hidup yang akan terabaikan, atau mungkin menjadi saat-saat yang memberi warna akan perjalanan panjang ini. Yah, hidup ini seberapa lama pun yang akan kita lalui, bagiku tetaplah perjalanan panjang. Perjalanan yang membuat kita tidak akan berhenti berharap, karena jalan-jalan di depan kudu dilalui dan kita sadari kita sangat memerlukan TUHAN.
Teringat pagi tadi, saat kita saat teduh. Bagiku ayat yang sangat mengagumkan dan menguatkan adalah, "Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga" (Joh 3 : 27b). Bayangkan saja, begitu dahsyatnya ayat ini bagiku yang aku. Semua yang kita miliki ini adalah karunia Tuhan. Kita tidak punya kuasa untuk mengambil bagi diri kita yang kita inginkan kalau Tuhan tidak mau mengaruniakannya kepada kita.
Bukankah kalau Tuhan sudah mengaruniakan kepada kita sesuatu, artinya tidak akan ada siapapun yang bisa mengambilnya dari diri kita ? Siapakah yang bisa menggugat anak-anak pilihan Tuhan ? Yup...siapakah sekarang yang kita takutkan ketika kita menghadapi begitu tantangan dalam pekerjaan, dalam lingkungan dan pelayanan kita ? Sungguh ayat itu sungguh menguatkan. Tidak ada kegentaran, karena kalau Tuhan sudah mengaruniakan artinya siapapun tidak bisa mengambilnya dari diriku. Hanya satu yang bisa menjadi penghambat karunia yang sudah Tuhan anugerahkan itu yaitu diriku sendiri.
Hmmm... sambil mengingat ayat yang indah tadi pagi. Aku melihat suamiku yang sedang sibuk juga inetan dari ponsel, terlihat juteknya sudah berkurang. DIa bisa menikmati lagu yang sedang mengalun.. Puji Tuhan. Ternyata mudah juga mengobati keselnya. Kalau aku rajin menulis, dia ternyata senang.. hehehe.
Kalaulah menulis adalah karunia Tuhan. Tentunya siapapun tidak bisa mengambil itu daripadaku. Kecuali aku memang tidak mengembangkannya. Tuhan akan mengembangkan orang yang mau mengembangkan diri. Aku yakini itu.
Abang, apa karunianya ? tanyaku kepada suamiku tadi pagi. Dia membisu sambil menggeleng dan bilang belum tahu. Hmmm kita kudu gali, kataku.
Saat ini sambil mengetik blog ini, aku senyum mengingat tebakanku kalau mungkin saja, suamiku memiliki karunia menikmati. Iya, menikmati adalah satu karunia yang dianugerahkan Tuhan juga. SOalnya dia gampang makan, apa saja dia suka... kalau B2 tentunya suka banget..nget...nget... Dia orangnya mudah dan nggak ribet. Cuek. Dan gak banyak tuntutan. Hmmm....dia bisa menikmati apa saja (kalau sudah ada)... Aku bersyukur untuk itu.
Hmm... karunia yang lain apa ya ? Ayo kita gali......dan kembangkan.
sebelum waktu nongkrong ini usai. Aku ingin meninggalkan jejak. Jejak-jejak yang dipenuhi gemercik air. Suatu bagian dalam perjalanan hidup yang akan terabaikan, atau mungkin menjadi saat-saat yang memberi warna akan perjalanan panjang ini. Yah, hidup ini seberapa lama pun yang akan kita lalui, bagiku tetaplah perjalanan panjang. Perjalanan yang membuat kita tidak akan berhenti berharap, karena jalan-jalan di depan kudu dilalui dan kita sadari kita sangat memerlukan TUHAN.
Teringat pagi tadi, saat kita saat teduh. Bagiku ayat yang sangat mengagumkan dan menguatkan adalah, "Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga" (Joh 3 : 27b). Bayangkan saja, begitu dahsyatnya ayat ini bagiku yang aku. Semua yang kita miliki ini adalah karunia Tuhan. Kita tidak punya kuasa untuk mengambil bagi diri kita yang kita inginkan kalau Tuhan tidak mau mengaruniakannya kepada kita.
Bukankah kalau Tuhan sudah mengaruniakan kepada kita sesuatu, artinya tidak akan ada siapapun yang bisa mengambilnya dari diri kita ? Siapakah yang bisa menggugat anak-anak pilihan Tuhan ? Yup...siapakah sekarang yang kita takutkan ketika kita menghadapi begitu tantangan dalam pekerjaan, dalam lingkungan dan pelayanan kita ? Sungguh ayat itu sungguh menguatkan. Tidak ada kegentaran, karena kalau Tuhan sudah mengaruniakan artinya siapapun tidak bisa mengambilnya dari diriku. Hanya satu yang bisa menjadi penghambat karunia yang sudah Tuhan anugerahkan itu yaitu diriku sendiri.
Hmmm... sambil mengingat ayat yang indah tadi pagi. Aku melihat suamiku yang sedang sibuk juga inetan dari ponsel, terlihat juteknya sudah berkurang. DIa bisa menikmati lagu yang sedang mengalun.. Puji Tuhan. Ternyata mudah juga mengobati keselnya. Kalau aku rajin menulis, dia ternyata senang.. hehehe.
Kalaulah menulis adalah karunia Tuhan. Tentunya siapapun tidak bisa mengambil itu daripadaku. Kecuali aku memang tidak mengembangkannya. Tuhan akan mengembangkan orang yang mau mengembangkan diri. Aku yakini itu.
Abang, apa karunianya ? tanyaku kepada suamiku tadi pagi. Dia membisu sambil menggeleng dan bilang belum tahu. Hmmm kita kudu gali, kataku.
Saat ini sambil mengetik blog ini, aku senyum mengingat tebakanku kalau mungkin saja, suamiku memiliki karunia menikmati. Iya, menikmati adalah satu karunia yang dianugerahkan Tuhan juga. SOalnya dia gampang makan, apa saja dia suka... kalau B2 tentunya suka banget..nget...nget... Dia orangnya mudah dan nggak ribet. Cuek. Dan gak banyak tuntutan. Hmmm....dia bisa menikmati apa saja (kalau sudah ada)... Aku bersyukur untuk itu.
Hmm... karunia yang lain apa ya ? Ayo kita gali......dan kembangkan.
Friday, March 12, 2010
Hangout alumni STT Telkom yang memberi semangat !!
Hari Rabu, 10 Maret 2010, beberapa alumni STT Telkom yang bekerja di Medan ngumpul pulang kerja di Warjo Jl. Dr. Mansyur. Hang out ini dimulai jam 6 sore dan yang on time cuma aku dan anas... maklumlah bos-bos yang lain kudu ninggalin kantor kalau anak buah mereka sudah pulang duluan kali ya.
Ada bang Rinto (IBM), Franky (XL), Bang Obet (Telkom), Anas (BNI), Nando (Smart) dan aku (ibu guru). Senang sekali berbagi dan bercerita. Bertemu teman-teman semua membuat aku jadi lebih semangat lagi untuk melakukan apa yang sudah menjadi tanggung jawabku. Teman-teman semua sudah hebat-hebat jadi aku senang banget kan ? Apalagi waktu Franky dan Bang Obet mau memberikan kuliah umum di STMIk Neumann, tempat aku mengabdi.
Semua pembicaraan selama hang out itu bagiku seperti semangat baru. AKu punya teman bercerita mengenai perkembangan bisnis telko. Karena jujur saja, di kampus terus tanpa ketemu dengan orang-orang praktisi sangat membuat wawasan berhenti di teori saja. Bahkan teoriku pun kurang berkembang. Karena buku yang aku sukai baca bukan buku-buku IT dan Telkom.
Cerita pengalaman teman-teman juga sangat menarik dan sangat memberi semangat. Apalagi untukku, sangat-sangat memberi semangat. Diskusi seputar bekerja dengan lakukan yang terbaik, berprinsip, idealis dan tetap kooperatif. Ketika Nando bilang, kak Nomi gabung di XL aja, si Franky sudah GM kan di XL. Aku langsung menjawab, nggak lah..aku lebih suka jadi dosen. Perempuan itu lebih baik jadi dosen saja. Waktu nya enak, aku ke kantor jam 9 pagi sudah bisa, terus pulang jam 4 sore juga gak masalah. Soal waktu aku sangat cocok dengan profesi dosen. Hanya saja wawasan dunia bisnis IT dan Telco aku kudu banyak belajar dari kalian.
Setuju, kata Bang Rintosa yang sekarang sudah jadi bos IBM, Perempuan memang lebih baik seperti yang Nomi bilang. Coba lihat perempuan-perempuan yang di kantor kita, apalagi di Jakarta, kalau sudah ngerjain report, waktu habis dikantor untuk bekerja.
Sudah lama aku tidak berfikir untuk bekerja di industri telco, dan aku tidak mau lagi balik fikiran karena alasan gaji yang lebih besar. Sudah pernah aku lepaskan pilihan itu. Saat itu besar-besaran dunia Telco mulai tumbuh, dan tawaran ada untuk gabung, aku lepas pilihan itu dan pilih pergi ke Banda Aceh membantu pemuda-pemuda korban tsunami. AKu sangat mensyukuri pilihanku itu. Berada di Medan dan seperti saat ini, bisa jadi dosen, bagiku adalah berkat Tuhan. Apa yang aku jalani ini, aku sangat percaya, Tuhan ikut di jalanku ini.
Diskusi ini pertama ditinggalkan oleh bang Obet, dia mau main futsal dengan client nya katanya. Sudah jam 21.30, aku pamit duluan pulang, malas kemalaman pulang kecuali kalau tadi suamiku ikutan.
Aku bercerita sama suamiku, kalau pertemuan dengan teman-teman membuat ada dorongan yang kuat dalam diriku untuk membuat perbedaan. Perbedaan yang positif dari Nomi yang kemarin dengan Nomi yang hari ini secara sikap, karakter dan juga pribadi. Harapan dan semangat itu mengalir dengan sangat kencang yang berbeda dari biasanya di nadiku. Aku bersyukur untuk Tuhan Penciptaku untuk semua kesempatan menarik yang Dia berikan kepadaku. Waktu aku tanya suamiku, apakah dia setuju kalau aku coba kerja di Indusstri, misalnya ? Dia menjawab, "aku lebih suka kam kerja sebagai dosen." Suamiku bilang, bersyukur karena kita bukan pekerja, tapi adalah orang-orang yang sedang melakukan hobby dan kesukaannya sebagai pekerjaan dan pelayanan.
Aku senang mengajar, dan saat ini ada 120 mahasiswa yang harus aku bimbing. Ini sangat menyenangkan. Penciptaku sudah merencanakan aku ada disini. Dia juga yang akan menyertai dan memberi kekuatan aku melalui hari-hari, jam-jam kerja yang berwarna disini.
Bersyukur pernah melalui masa-masa studi di STT Telkom....
Ada bang Rinto (IBM), Franky (XL), Bang Obet (Telkom), Anas (BNI), Nando (Smart) dan aku (ibu guru). Senang sekali berbagi dan bercerita. Bertemu teman-teman semua membuat aku jadi lebih semangat lagi untuk melakukan apa yang sudah menjadi tanggung jawabku. Teman-teman semua sudah hebat-hebat jadi aku senang banget kan ? Apalagi waktu Franky dan Bang Obet mau memberikan kuliah umum di STMIk Neumann, tempat aku mengabdi.
Semua pembicaraan selama hang out itu bagiku seperti semangat baru. AKu punya teman bercerita mengenai perkembangan bisnis telko. Karena jujur saja, di kampus terus tanpa ketemu dengan orang-orang praktisi sangat membuat wawasan berhenti di teori saja. Bahkan teoriku pun kurang berkembang. Karena buku yang aku sukai baca bukan buku-buku IT dan Telkom.
Cerita pengalaman teman-teman juga sangat menarik dan sangat memberi semangat. Apalagi untukku, sangat-sangat memberi semangat. Diskusi seputar bekerja dengan lakukan yang terbaik, berprinsip, idealis dan tetap kooperatif. Ketika Nando bilang, kak Nomi gabung di XL aja, si Franky sudah GM kan di XL. Aku langsung menjawab, nggak lah..aku lebih suka jadi dosen. Perempuan itu lebih baik jadi dosen saja. Waktu nya enak, aku ke kantor jam 9 pagi sudah bisa, terus pulang jam 4 sore juga gak masalah. Soal waktu aku sangat cocok dengan profesi dosen. Hanya saja wawasan dunia bisnis IT dan Telco aku kudu banyak belajar dari kalian.
Setuju, kata Bang Rintosa yang sekarang sudah jadi bos IBM, Perempuan memang lebih baik seperti yang Nomi bilang. Coba lihat perempuan-perempuan yang di kantor kita, apalagi di Jakarta, kalau sudah ngerjain report, waktu habis dikantor untuk bekerja.
Sudah lama aku tidak berfikir untuk bekerja di industri telco, dan aku tidak mau lagi balik fikiran karena alasan gaji yang lebih besar. Sudah pernah aku lepaskan pilihan itu. Saat itu besar-besaran dunia Telco mulai tumbuh, dan tawaran ada untuk gabung, aku lepas pilihan itu dan pilih pergi ke Banda Aceh membantu pemuda-pemuda korban tsunami. AKu sangat mensyukuri pilihanku itu. Berada di Medan dan seperti saat ini, bisa jadi dosen, bagiku adalah berkat Tuhan. Apa yang aku jalani ini, aku sangat percaya, Tuhan ikut di jalanku ini.
Diskusi ini pertama ditinggalkan oleh bang Obet, dia mau main futsal dengan client nya katanya. Sudah jam 21.30, aku pamit duluan pulang, malas kemalaman pulang kecuali kalau tadi suamiku ikutan.
Aku bercerita sama suamiku, kalau pertemuan dengan teman-teman membuat ada dorongan yang kuat dalam diriku untuk membuat perbedaan. Perbedaan yang positif dari Nomi yang kemarin dengan Nomi yang hari ini secara sikap, karakter dan juga pribadi. Harapan dan semangat itu mengalir dengan sangat kencang yang berbeda dari biasanya di nadiku. Aku bersyukur untuk Tuhan Penciptaku untuk semua kesempatan menarik yang Dia berikan kepadaku. Waktu aku tanya suamiku, apakah dia setuju kalau aku coba kerja di Indusstri, misalnya ? Dia menjawab, "aku lebih suka kam kerja sebagai dosen." Suamiku bilang, bersyukur karena kita bukan pekerja, tapi adalah orang-orang yang sedang melakukan hobby dan kesukaannya sebagai pekerjaan dan pelayanan.
Aku senang mengajar, dan saat ini ada 120 mahasiswa yang harus aku bimbing. Ini sangat menyenangkan. Penciptaku sudah merencanakan aku ada disini. Dia juga yang akan menyertai dan memberi kekuatan aku melalui hari-hari, jam-jam kerja yang berwarna disini.
Bersyukur pernah melalui masa-masa studi di STT Telkom....
Wednesday, February 17, 2010
Memberi adalah kesempatan…
Aku ingat seorang turang yang sering mengingatkan bahwa memberi adalah kesempatan.
Hari ini aku di angkot aku menerima sms yang membuatku berkaca-kaca.
Sms ini isinya: “ Bujur melala kak, skali nari ! Aku pasti berjuang kak, aminna gia kueteh nge la kungasup ndalankenca. Tp ku akan berjuang semampuku! Ini juga akan mengubah sikapku yg tdnya aku jg agak bandel menjadi orang tau diri! Rajin kgreja dan berdoa. Bujur kak..
Aku balas sms nya dengan pesan, “ aku dukung kam dek..” Kemudian aku terima lagi sms darinya : “Terima kasih ya kak. Sampai kapan pun kan kuingat jasandu ini kak. Akan ku pertanggung jawabkan tugas yg kam kasi sm q kak..
Adik ini sudah sejak Senin ada dalam pikiranku dan juga dalam diskusi saat teduh pagiku dengan suami. Aku bilang kalau aku sangat terdorong untuk mencarikan dia beasiswa karena kondisinya yang sangat membutuhkan pertolongan. Suamiku setuju dan memberikan dukungan. Aku menceritakan kalau hidupku selama ini sangat diberkati dengan mengurus beasiswa adik yang lain yang sekarang sudah tidak perlu dibantu lagi. Iya, kita pernah berkomitmen akan bertanggung jawab untuk mendukung adik itu sampai selesai. Tapi karena perekonomian keluarganya sudah lebih baik, dia tidak perlu ditolong lagi..dan kita bebas dari janji kita, walaupun kita tidak pernah berjanji sama adik itu, suamiku mengingatkan.
Tadi pagi, adik yang sedang dalam pikiranku itu datang ke ruanganku. Kemarin kami sudah janjian untuk ketemu pagi ini. AKu bertanya keluarganya, dan mengenai studinya. Dia bercerita mengenai keluarganya. Mamak, PNS guru Bahasa Inggris katanya. Tapi mamak sedang sakit karena tertekan, dia berobat ke prikiater. Bapak kadang sehat kadang enggak. Beberapa kali Bapak sudah dimasukkan ke rumah sakit jiwa, tapi selalu dikeluarkan dokter karena katanya bapak sehat. Kak, mungkin bapakku ada kuasa gelap yang mengikutinya, makanya dia sering tidak sehat, katanya. Karena mamak takut kami semua rusak mental kami kak, sejak SD aku sudah di Medan. Kami tiga bersaudara, yang tua di Palembang, kerja sama abang jadi tukang ngantar air kemasan gitu, ceritanya. Aku nomer dua, sekarang aku tinggal di rumah bulang, sedangkan adikku yang paling kecil nomor tiga tinggal di rumah bibik sudah SMA.
Kak, sebenarnya rencanaku berhenti dulu sekarang terus bekerja dulu cari uang biar tahun ajaran nanti aku bisa bayar uang sekolahku. Di kampung, mamak tertekan karena kondisi bapak. Siswa-siswanya pun kadang membicarakan mamak. Emaka mamak pe dekahen nge rumah, labo akapna meriah kel diskusi ras nande-nande sideban. Mela mamak kak...dan selama ini ditahannya sampai akhirnya sekarang ini dia sakit.
Aku lebih banyak mendengarkan adik ini bercerita. Air matanya berlinang menceritakan mamaknya. Kemudian aku ajak dia berdoa. Berdoa supaya dia semangat belajar, berdoa supaya mamaknya sembuh, bapaknya sembuh, supaya keluarga mereka diberikan Tuhan damai sejahtera dan kekuatan melalui ini semua..
Selesai berdoa, adik ini semakin nggak kuat menahan air matanya. Aku pindahkan tisu yang ada di sebelahku ke hadapan adik itu. ”Kenapa Bapak ku begitu ya kak ? Dia tidak pernah memikirkan kami anak-anaknya. Hanya mamak lah yang berjuang untuk kami. Untung mamak PNS, jadi masih ada uang mamak sedikit untuk kami hidup kak”
Setelah dia reda menangis, Aku bicara kalau aku akan bertanggung jawab mendukung uang kuliahnya. Kalau dia bisa mendapatkan pekerjaan yang tidak mengganggu kuliahnya, aku mendorongnya bekerja. Untuk tambah-tambah uang beli buku dan kebutuhannya yang lain. Dek, mungkin bukan hanya aku yang akan menolong kam. Banyak teman-temanku yang akan mau menolong kam dek.. tapi aku yang akan bertanggung jawab. Nggak usah lagi kam memikirkan uang kuliah. Mungkin pembicaraan kita ini adalah hasil doa mamakndu dek. Hibur mamakndu ya... Adi tutus atendu sekolah, banci pagi kam erdahin gelah banci sampatindu mamakndu dek.. Kam sekarang yang akan menjadi kebanggan mamakndu kalau kam bisa empat tahun lagi jadi sarjana. Banyak berdoa ya..biar Tuhan juga akan memberikan kam pekerjaan saat kam nanti sudah lulus.
Dia mengangguk dan bertanya. Apa hutangku sama kam kak ? Kam tidak punya hutang ama-apa sama aku dek. Kam cukup membayarnya dengan rajin belajar dan hasilkan IP yang bagus. Karena akan ada beasiswa kalau IP ndu bagus. Dia mengangguk.
Aku bertanya kepadanya. Kam bisa membayangkan kam akan jadi seperti apa 20 tahun yang akan datang dek ? Adik ini menggeleng. Kalau kam rajin belajar, mungkin 20 tahun lagi kam akan menjadi pimppinan, kam bisa menjadi kepala kantor.. kam bisa menjadi apapun yang kam impikan,kalau kam belajar dan berjuang dan ini akan sangat membanggakan mamakndu. Berdoa kepada Tuhan supaya DIA membuka jalan dan menolong ndu.
Membaca sms tadi aku berkaca-kaca dan bersyukur mengambil kesempatan untuk menolongnya. Aku mengingat satu kutipan yang mengatakan, kucari Tuhan tidak aku temukan Tuhan. Kucari sesamaku ku temukan Tuhan...
Dua puluh tahun yang akan datang, mungkin adik ini bisa membantu banyak orang lain yang mengalami nasib yang sama dengannya saat ini. Aku bedoa untuk itu...
Hari ini aku di angkot aku menerima sms yang membuatku berkaca-kaca.
Sms ini isinya: “ Bujur melala kak, skali nari ! Aku pasti berjuang kak, aminna gia kueteh nge la kungasup ndalankenca. Tp ku akan berjuang semampuku! Ini juga akan mengubah sikapku yg tdnya aku jg agak bandel menjadi orang tau diri! Rajin kgreja dan berdoa. Bujur kak..
Aku balas sms nya dengan pesan, “ aku dukung kam dek..” Kemudian aku terima lagi sms darinya : “Terima kasih ya kak. Sampai kapan pun kan kuingat jasandu ini kak. Akan ku pertanggung jawabkan tugas yg kam kasi sm q kak..
Adik ini sudah sejak Senin ada dalam pikiranku dan juga dalam diskusi saat teduh pagiku dengan suami. Aku bilang kalau aku sangat terdorong untuk mencarikan dia beasiswa karena kondisinya yang sangat membutuhkan pertolongan. Suamiku setuju dan memberikan dukungan. Aku menceritakan kalau hidupku selama ini sangat diberkati dengan mengurus beasiswa adik yang lain yang sekarang sudah tidak perlu dibantu lagi. Iya, kita pernah berkomitmen akan bertanggung jawab untuk mendukung adik itu sampai selesai. Tapi karena perekonomian keluarganya sudah lebih baik, dia tidak perlu ditolong lagi..dan kita bebas dari janji kita, walaupun kita tidak pernah berjanji sama adik itu, suamiku mengingatkan.
Tadi pagi, adik yang sedang dalam pikiranku itu datang ke ruanganku. Kemarin kami sudah janjian untuk ketemu pagi ini. AKu bertanya keluarganya, dan mengenai studinya. Dia bercerita mengenai keluarganya. Mamak, PNS guru Bahasa Inggris katanya. Tapi mamak sedang sakit karena tertekan, dia berobat ke prikiater. Bapak kadang sehat kadang enggak. Beberapa kali Bapak sudah dimasukkan ke rumah sakit jiwa, tapi selalu dikeluarkan dokter karena katanya bapak sehat. Kak, mungkin bapakku ada kuasa gelap yang mengikutinya, makanya dia sering tidak sehat, katanya. Karena mamak takut kami semua rusak mental kami kak, sejak SD aku sudah di Medan. Kami tiga bersaudara, yang tua di Palembang, kerja sama abang jadi tukang ngantar air kemasan gitu, ceritanya. Aku nomer dua, sekarang aku tinggal di rumah bulang, sedangkan adikku yang paling kecil nomor tiga tinggal di rumah bibik sudah SMA.
Kak, sebenarnya rencanaku berhenti dulu sekarang terus bekerja dulu cari uang biar tahun ajaran nanti aku bisa bayar uang sekolahku. Di kampung, mamak tertekan karena kondisi bapak. Siswa-siswanya pun kadang membicarakan mamak. Emaka mamak pe dekahen nge rumah, labo akapna meriah kel diskusi ras nande-nande sideban. Mela mamak kak...dan selama ini ditahannya sampai akhirnya sekarang ini dia sakit.
Aku lebih banyak mendengarkan adik ini bercerita. Air matanya berlinang menceritakan mamaknya. Kemudian aku ajak dia berdoa. Berdoa supaya dia semangat belajar, berdoa supaya mamaknya sembuh, bapaknya sembuh, supaya keluarga mereka diberikan Tuhan damai sejahtera dan kekuatan melalui ini semua..
Selesai berdoa, adik ini semakin nggak kuat menahan air matanya. Aku pindahkan tisu yang ada di sebelahku ke hadapan adik itu. ”Kenapa Bapak ku begitu ya kak ? Dia tidak pernah memikirkan kami anak-anaknya. Hanya mamak lah yang berjuang untuk kami. Untung mamak PNS, jadi masih ada uang mamak sedikit untuk kami hidup kak”
Setelah dia reda menangis, Aku bicara kalau aku akan bertanggung jawab mendukung uang kuliahnya. Kalau dia bisa mendapatkan pekerjaan yang tidak mengganggu kuliahnya, aku mendorongnya bekerja. Untuk tambah-tambah uang beli buku dan kebutuhannya yang lain. Dek, mungkin bukan hanya aku yang akan menolong kam. Banyak teman-temanku yang akan mau menolong kam dek.. tapi aku yang akan bertanggung jawab. Nggak usah lagi kam memikirkan uang kuliah. Mungkin pembicaraan kita ini adalah hasil doa mamakndu dek. Hibur mamakndu ya... Adi tutus atendu sekolah, banci pagi kam erdahin gelah banci sampatindu mamakndu dek.. Kam sekarang yang akan menjadi kebanggan mamakndu kalau kam bisa empat tahun lagi jadi sarjana. Banyak berdoa ya..biar Tuhan juga akan memberikan kam pekerjaan saat kam nanti sudah lulus.
Dia mengangguk dan bertanya. Apa hutangku sama kam kak ? Kam tidak punya hutang ama-apa sama aku dek. Kam cukup membayarnya dengan rajin belajar dan hasilkan IP yang bagus. Karena akan ada beasiswa kalau IP ndu bagus. Dia mengangguk.
Aku bertanya kepadanya. Kam bisa membayangkan kam akan jadi seperti apa 20 tahun yang akan datang dek ? Adik ini menggeleng. Kalau kam rajin belajar, mungkin 20 tahun lagi kam akan menjadi pimppinan, kam bisa menjadi kepala kantor.. kam bisa menjadi apapun yang kam impikan,kalau kam belajar dan berjuang dan ini akan sangat membanggakan mamakndu. Berdoa kepada Tuhan supaya DIA membuka jalan dan menolong ndu.
Membaca sms tadi aku berkaca-kaca dan bersyukur mengambil kesempatan untuk menolongnya. Aku mengingat satu kutipan yang mengatakan, kucari Tuhan tidak aku temukan Tuhan. Kucari sesamaku ku temukan Tuhan...
Dua puluh tahun yang akan datang, mungkin adik ini bisa membantu banyak orang lain yang mengalami nasib yang sama dengannya saat ini. Aku bedoa untuk itu...
Tuesday, February 09, 2010
Memilih Mewarnai Hidup...
Hari ini aku diingatkan bahwa hidup ini adalah memilih...
Aku putuskan memilih mewarnai hidupku, rumah tanggaku, pekerjaanku dan juga mimpi-mimpiku...
Aku putuskan memilih mewarnai hidupku, rumah tanggaku, pekerjaanku dan juga mimpi-mimpiku...
Subscribe to:
Posts (Atom)