Tadi malam, nongkrong di Kopi Tiam Kok Tong yang ada di Medan Fair sama bang Abdi. Dari jam 20.00 sampai jam 21.30. Setelah itu harus pulang karena Cafe 31 harus ditutup. Tadi malam ngobrol dan diskusinya seru banget. Sambil baca buku nya Jhon Maxwell. Tiba-tiba bingung karena ada blitz yang menyilaukan kita. Kita cuma pandang-pandangan dan bilang, ada yang moto kayaknya ya gitu.. Cueks aja dan membaca dilanjutkan.
Ini sudah buku yang ke-4 kita baca bareng. Lumayan juga kegiatan membaca bareng ini. Kalau ini tidak dilakukan, bisa-bisa aku gak selesai-selesai baca buku sendiri. Bang Abdi juga kan? hehehe...
Hobi diskusi dan membaca sering membuat nongkrong gak terasa dengan waktu. Untung ada cafe 31, membuat hidup jadi lebih teratur. Sebelum jam 10 sudah harus kembali dari kegiatan apapun. Kalau lagi ke Kabanjahe, untung bang Abdi baik banget mau membuka dan menutupnya. Makasih banyak ya bang...
Aku masih ingat loh diskusi kita tadi malam tentang berfikir lebih luas. Dan dalam banyak hal semua itu dimulai dari pikiran.
Wednesday, April 29, 2009
Monday, April 27, 2009
Bersyukur untuk kesibukan..
Ketika kita masih sibuk karena banyak kerjaan yang numpuk...itu artinya kita sudah seharusnya mengucap syukur karena kita masih punya pekerjaa.
Kerjakan satu-satu dan semuanya akan selesai juga.
Jarak seribu mil yang perlu ditempuh, bukankah selalu dimulai dengan langkah yang pertama ?
Ayo... kerjakan lagi...dan jangan lupa bersenang-senang dan bergembira juga untuk menambah energi dalam semua pekerjaan itu.
Kerjakan satu-satu dan semuanya akan selesai juga.
Jarak seribu mil yang perlu ditempuh, bukankah selalu dimulai dengan langkah yang pertama ?
Ayo... kerjakan lagi...dan jangan lupa bersenang-senang dan bergembira juga untuk menambah energi dalam semua pekerjaan itu.
Wednesday, April 08, 2009
Pekan Raya Sumatera Utara + Jepitan
Malam baru saja beranjak menyelimuti kota Medan. Langit mendung kelam dan udara panas siang tadi sudah terusir dengan kesejukan. Mengingat long weekend dan akan pulang ke Kabanjahe. Mengunjungi Pekan Raya Sumatera Utara menjadi keinginan seminggu ini. Ada yang mau dicari dan infonya dari Isti, yang aku cari itu bisa aku peroleh di PRSU. (Objek yang dikejar ke PRSU adalah jepitan rambut, Red). Habisnya, jepitan rambut aku beberapa waktu yang lalu patah waktu naik angkot 108 di jalan yang berlubang-lubang lewat pasar baru. Pengen banget punya jepitan yang seperti itu, dan Isti bilang bisa aku dapatkan di PRSU.
Masuk ke dalam bayar tiket Rp 5.000. Bingung juga, kayak gitu aja kok pake tiket segala. Mungkin karena di Medan kali ya ? Hmmmm...
AKhirnya muter-muter dan juga bolak-balik telpon isti dimana tempat yang menjual jepitan rambut itu, dan didetik-detik terakhir nemu juga. Detik-detik terakhir aku bilang karena sebentar lagi sudah harus pulang. Kafe 31 harus tutup jam 22.00. Kasian yang jaga kalau belum sampai disana jam 22.00. Sedihnya dan puas juga waktu nemu penjualnya, ternyata jepitan yang aku cari sudah habis terjual. Gak ada lagi barangnya. Yang ada sisa aku gak suka. Gak usah dipaksakan...itu aja saran yang aku dengar dari hatiku dan bang Abdi. Satu yang aku pelajari, ternyata yang ngotot pengen dikejar itu tidak selalu didapat. Apalagi yang dikejar juga gak penting kali pun...hheeehhhh
Masuk ke dalam bayar tiket Rp 5.000. Bingung juga, kayak gitu aja kok pake tiket segala. Mungkin karena di Medan kali ya ? Hmmmm...
AKhirnya muter-muter dan juga bolak-balik telpon isti dimana tempat yang menjual jepitan rambut itu, dan didetik-detik terakhir nemu juga. Detik-detik terakhir aku bilang karena sebentar lagi sudah harus pulang. Kafe 31 harus tutup jam 22.00. Kasian yang jaga kalau belum sampai disana jam 22.00. Sedihnya dan puas juga waktu nemu penjualnya, ternyata jepitan yang aku cari sudah habis terjual. Gak ada lagi barangnya. Yang ada sisa aku gak suka. Gak usah dipaksakan...itu aja saran yang aku dengar dari hatiku dan bang Abdi. Satu yang aku pelajari, ternyata yang ngotot pengen dikejar itu tidak selalu didapat. Apalagi yang dikejar juga gak penting kali pun...hheeehhhh
Tuesday, February 24, 2009
Lelah...tapi tetap semangat dan senang...
Semangat lebih besar daripada kapasitas.. Terlalu banyak yang ingin dikerjakan sehingga kadang harus sadar kalau gak mungkin semua dikerjakan dengan baik. Hari ini, aku sibuk mondar-mandir, kantor moderamen, rumah, ppwg, balik lagi ke moderamen, ppwg dan rumah..
Hmmm... kadang capek banget, habisnya laptop kudu dibawa2 mulu. Sudah pegel banget pundakku ini. Tapi sore ini, senang juga karena cukup lumayan hasil kerjaan hari ini..walaupun aku ingat ada yang ketinggalan juga. Hari ini sebelum pulang ke rumah aku sudah merencanakan ke Alpho Omega mengambil buku profil mereka untuk dipalajri. Tapi kelupaan, ya sudah lah... besok sore aja lagi. Toh yang menunggu dikerjakan juga sudah numpuk kok.
Seminggu ini, aku akan sibuk wara-wiri kabanjahe sekitar. Kamis - sabtu sudah ada jadwal bersama parpem..rutenya, mulai dari Suka Makmur, Juhar, Namo Rambe dan lupa satu lagi aku nama desa untuk meliput pembangunan sarana air minum. Hanya saja aku bingung dengan kegiatan sabtu, karena ada pelatihan PME untuk PERMATA di PPWG di hari yang sama. Sedangkan Irna ada pemotretan pestanya saudara di Medan, dan gak mungkin dibatalkan. hmmm
Sebentar lagi akan kelihatan hasil kerjaan ini, karena kamis 5 maret sudah ditargetkan untuk presentasi. Neumann, aku ijin dulu seminggu ini raib dari situ ya...hehehehe
Hmmm... kadang capek banget, habisnya laptop kudu dibawa2 mulu. Sudah pegel banget pundakku ini. Tapi sore ini, senang juga karena cukup lumayan hasil kerjaan hari ini..walaupun aku ingat ada yang ketinggalan juga. Hari ini sebelum pulang ke rumah aku sudah merencanakan ke Alpho Omega mengambil buku profil mereka untuk dipalajri. Tapi kelupaan, ya sudah lah... besok sore aja lagi. Toh yang menunggu dikerjakan juga sudah numpuk kok.
Seminggu ini, aku akan sibuk wara-wiri kabanjahe sekitar. Kamis - sabtu sudah ada jadwal bersama parpem..rutenya, mulai dari Suka Makmur, Juhar, Namo Rambe dan lupa satu lagi aku nama desa untuk meliput pembangunan sarana air minum. Hanya saja aku bingung dengan kegiatan sabtu, karena ada pelatihan PME untuk PERMATA di PPWG di hari yang sama. Sedangkan Irna ada pemotretan pestanya saudara di Medan, dan gak mungkin dibatalkan. hmmm
Sebentar lagi akan kelihatan hasil kerjaan ini, karena kamis 5 maret sudah ditargetkan untuk presentasi. Neumann, aku ijin dulu seminggu ini raib dari situ ya...hehehehe
Wednesday, February 04, 2009
bersama teman2 mission spark UEM
Ketemuan ma teman2 di mission spark selalu ngaret...hehehe. Terlebih si super sibuk Karolina Rumbiak, Staf UEM ini. Janjian jam 6 sore..dianya sampai jam 8.30 malam. Keren kan ? Gak bisa ngomong aku waktu dia sudah telat tapi sempat belanja dulu lagi. Kita2 sudah lama sekali nunggunya bok. Setelah karolina bergabung kita makan di Fountain dan sebelum pulang photo2 dulu karena dinding fountain itu bagus kata formanto..atau kata hotlin ya ? gak tahu lah...


Thursday, January 22, 2009
Hari yang Indah...
Memiliki kesempatan berbicara kepada ratusan siswa-siswa SMA N 1 Kabanjahe, Senin 19 Jan 09, menjadi hal yang sangat berarti bagiku. Tidak dilewatkan dengan motivasi supaya tetap semangat belajar. Berjuang dan bertahan dengan selamat beberapa saat akan membuat kita menikmati hasil perjuangan itu lebih lama. Saat ini ketika masih duduk di bangku SMA, tentu kesempatan berjuang itu ada beberapa bulan lagi buat yang kelas tiga, setahun lebih bagi kelas 2 dan dua tahun lebih sedikit lagi bagi yang kelas 1. Berjuanglah supaya bisa masuk ke perguruan tinggi yang terbaik di Negeri ini.
Ketika perjuangan itu nanti sudah menghasilkan buah...tetaplah bertahan sekitar 4-5 tahun lagi. Belajar keras dan jangan ditanggung-tanggungi. Maka hasilnya juga tidak akan tanggung-tanggung. Akan menghasilkan orang-orang yang merupakan SDM yang kompeten dan tentunya tidak akan menambah beban negara ini dengan pengangguran. Saya yakin siswa-siswa SMA yang mau berkomitmen dari sekarang untuk berjuang akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan ketika lulus nanti. Bukan hanya mendapatkan pekerjaan, namun juga mampu membuka lapangan pekerjaan.
Berani untuk sementara kesulitan, kelelahan dan kecapain untuk sebuah perjuangan. Maka tiba waktunya, akan lebih lama kita menuai hasil perjuangan itu. Jangan ditanggung-tanggungi ketika sedang menjalani proses pembelajaran. Lakukanlah sampai maksimal. Bukan orang lain, bukan guru-guru yang akan merasakan hasil perjuangan itu, tetapi diri sendiri. Namun kalau waktu ini dibiarkan berlalu begitu saja dan belajar seadanya saja, maka bukan orang lain juga yang rugi..tapi diri sendiri yang akan menuai hasilnya di masa depan.
Suatu hari yang indah ketika memiliki kesempatan menyampaikan pesan itu untuk memotivasi pelajar-pelajar itu berjuang untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Terima kasih Tuhan, terima kasih Alumni Karo ITB...
Tuesday, January 20, 2009
Yang aku peroleh lebih mahal dari yang aku berikan :)
beberapa hari yang lalu aku naik beca pulang dari poligon. Setelah deal ongkos beca, aku naik dan si tukang beca motor membawaku lewat jl. Setia Budi. DI pinggir jl . Setia budi aku meminta becaknya berhenti dan tungguin aku sebentar mau beli buah. Toko buah yang aku tuju masih mengingat aku karena ini bukan yang pertama aku belanja buah disitu. AKu beli apel 1,5 kg, sebenarnya 1 kg juga cukup untuk kebutuhanku, dan meminta kantung plastiknya dibuat 2 buah. Aku kembali menuju becak dan aku lihat si tukang beca menungguku dengan sabar dan langsung melanjutkan perjalanan.
Sampainya di Kafe, tukang beca menurunkan barang bawaanku dan membawanya masuk ke dalam. Aku membayar ongkosku dan memberikan kantung plastik berisi 3 buah apel. "Ini buat anak-anak Bapak di rumah, terima kasih banyak tadi Bapak sabar menunggu saya membeli buah," kataku sambil tersenyum dan menyodorkan kantung plastik itu. Mata Bapak itu berbinar, senyumnya mengembang dan tulang pipinya naik,"Terima kasih banyak, biasa kami menunggu yang naik becak berhenti sebentar karena ada keperluan. Trima kasih banyak," katanya dengan tulus.
Aku bisa melihat ketulusannya, dan hatiku rasanya sangat senang dan bersyukur bisa memberikan buah apel itu kepada Bapak itu. Melihat ketulusannya, rasanya apel yang aku berikan itu tidak sebanding dengan yang aku dapatkan. Aku mendapatkan sukacita, rasanya tubuhku sangat ringan untuk melangkah dan aku bersyukur sekali untuk hari itu. Buah apel itu aku tahu harga rupiahnya, namun ketulusan terima kasih yang aku terima tidak bisa aku rupiahkan, bahkan tidak bisa aku beli dengan rupiah. Aku mendapatkan lebih banyak dari yang aku berikan sangat sedikit itu.
Aku belajar hari itu, aku jadi mengagumi orang-orang kecil. Mereka adalah orang-orang hebat yang memiliki kesabaran luar biasa. Memiliki ketulusan yang tidak dibuat-buat. Aku yang sangat tidak sabar ini, yang selalu rasanya terburu-buru dan akan ngomel kalau disuruh menunggu jadi belajar betapa sabar itu adalah karakter yang dimiliki banyak orang kecil.
Belajar sabar tidak akan kita lihat teladannya dengan melihat orang-orang hebat. Baca biografi orang-orang besar kadang tidak mengajarkan kesabaran dan ketulusan. Tetapi ketika aku membuka mata melihat orang-orang kecil disekitarku, aku mampu melihat karakter sabar yang luar biasa serta ketulusan yang benar-benar tulus. Berterima kasih karena hal kecil (menurutku) namun dia bisa melihat itu hal besar. Oh Tuhan, aku sangat bersyukur dengan pengalaman itu. Aku yang selalu menyesali diri karena ketidaksabaran jadi tahu kemana aku bisa belajar dan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan contoh hidup.
Tuhan ajar aku untuk lebih sabar dan tulus dalam hidup ini. Supaya aku akan lebih bijaksana dan bisa lebih mengenalMu dalam jalan-jalan yang aku lalui. AMin !!
Sampainya di Kafe, tukang beca menurunkan barang bawaanku dan membawanya masuk ke dalam. Aku membayar ongkosku dan memberikan kantung plastik berisi 3 buah apel. "Ini buat anak-anak Bapak di rumah, terima kasih banyak tadi Bapak sabar menunggu saya membeli buah," kataku sambil tersenyum dan menyodorkan kantung plastik itu. Mata Bapak itu berbinar, senyumnya mengembang dan tulang pipinya naik,"Terima kasih banyak, biasa kami menunggu yang naik becak berhenti sebentar karena ada keperluan. Trima kasih banyak," katanya dengan tulus.
Aku bisa melihat ketulusannya, dan hatiku rasanya sangat senang dan bersyukur bisa memberikan buah apel itu kepada Bapak itu. Melihat ketulusannya, rasanya apel yang aku berikan itu tidak sebanding dengan yang aku dapatkan. Aku mendapatkan sukacita, rasanya tubuhku sangat ringan untuk melangkah dan aku bersyukur sekali untuk hari itu. Buah apel itu aku tahu harga rupiahnya, namun ketulusan terima kasih yang aku terima tidak bisa aku rupiahkan, bahkan tidak bisa aku beli dengan rupiah. Aku mendapatkan lebih banyak dari yang aku berikan sangat sedikit itu.
Aku belajar hari itu, aku jadi mengagumi orang-orang kecil. Mereka adalah orang-orang hebat yang memiliki kesabaran luar biasa. Memiliki ketulusan yang tidak dibuat-buat. Aku yang sangat tidak sabar ini, yang selalu rasanya terburu-buru dan akan ngomel kalau disuruh menunggu jadi belajar betapa sabar itu adalah karakter yang dimiliki banyak orang kecil.
Belajar sabar tidak akan kita lihat teladannya dengan melihat orang-orang hebat. Baca biografi orang-orang besar kadang tidak mengajarkan kesabaran dan ketulusan. Tetapi ketika aku membuka mata melihat orang-orang kecil disekitarku, aku mampu melihat karakter sabar yang luar biasa serta ketulusan yang benar-benar tulus. Berterima kasih karena hal kecil (menurutku) namun dia bisa melihat itu hal besar. Oh Tuhan, aku sangat bersyukur dengan pengalaman itu. Aku yang selalu menyesali diri karena ketidaksabaran jadi tahu kemana aku bisa belajar dan bagaimana caranya aku bisa mendapatkan contoh hidup.
Tuhan ajar aku untuk lebih sabar dan tulus dalam hidup ini. Supaya aku akan lebih bijaksana dan bisa lebih mengenalMu dalam jalan-jalan yang aku lalui. AMin !!
Wednesday, January 14, 2009
Anakku sudah 9 bulan....
Baru sebulan lebih aku kenal dengannya. Dia bekerja untukku sebagai tukang masak. Tadinya aku pikir dia baru lulus SMA dan tidak lanjut kuliah, sehingga dia memutuskan untuk bekerja. Dia jadi tukang masak karena direkomendasikan oleh tukang masak sebelumnya, Alfi, yang ingin bekerja di tempat yang lebih menjanjikan dibandingkan dengan kafe yang kami kelola. Wajar juga sih...
Namanya Fani dan usianya 20 tahun. Ketika aku menanyakan kenapa dia memutuskan untuk bekerja bukan sekolah, aku sangat kaget dengan jawabannya. "Lumayan kan kalau bekerja bisa dapat uang beli susu anakku, kak". "Kamu sudah punya anak? Berapa usia anakmu? Sekarang anakmu siapa yang jaga?" berebutan pertanyaan ingin keluar dari mulutku untuk lebih mengenal adik ini. "Anakku lagi-laki sudah 9 bulan, sekarang dia di rumah dijaga mamakku." "Suamimu apa kerjanya? Apakah kalian semua tinggal serumah?" "Suamiku supir, tapi aku gak tau dia tinggal dimana. Istrinya tinggal di Tebing, tapi dia juga gak selalu di tebing." "Hmmmm...."
Fani yang hanya sekolah sampai SMP dengan ibu yang sudah 3 kali menikah juga. Katanya bapaknya, suami ibunya sekarang bukan bapak kandungnya. Ketika aku lihat hidupnya, dan aku lihat hidupku...betapa aku harus selalu mengucap syukur sama Tuhan. AKu bisa mempunyai banyak kesempatan dalam hidup ini. Kesempatan berbuat baik, dan juga kesempatan untuk berkembang. Beberapa waktu yang lalu Fani bertanya, "mungkinkah ada cowok yang baik mau sama aku kak?" "Pastilah ada, kamu sabar saja..dan berdoa."
Tadi pagi, adikku Karina bilang ke aku kalau aku harus sering-sering ngobrol sama Fani. Enggak kebetulan dia kerja untukku. "Ajari dia konsep pasangan hidup, trus tanyakan apakah dia punya cita-cita akan anaknya itu," kata Karina. "Kalau kesempatan ini tidak kakak gunakan untuk membukakan pikirannya Fani, maka kehidupannya bisa diprediksi akan sama seperti kehdupan ibunya. Menikah sampai 3 kali, dan ketika usianya 40 tahun dia juga akan sudah punya cucu. Anaknya akan tumbuh apa adanya, dan dia tidak akan berfikir untuk sekolah. Sekolah supaya tahu membaca dan setelah itu bekerja dan menikah. Seperti ini akan berlangsung terus, dan negara ini akan semakin terpuruk karena SDM nya sangat kualitas rendah."
Pagi tadi, aku dan Karina jadi geli sendiri dengan pembicaraan diatas. KAmi membahas Fani sampai menarik kesimpulan secara nasional. Gimana gak Singapore dan malaisia jauh lebih maju, karena SDM Indonesia yang terbaik mereka ambil dan diberikan kesempatan berkarya disana. DI Indonesia tinggal SDM yang gak mutu, tidak mandiri dan juga rentan dengan kejahatan. Gimana gak jadi jahat kalau penghasilan kecil dan biaya hidup semakin tinggi.
Pelajaran hari ini bagiku adalah untuk lebih banyak berbicara hal penting dengan Fani...
Namanya Fani dan usianya 20 tahun. Ketika aku menanyakan kenapa dia memutuskan untuk bekerja bukan sekolah, aku sangat kaget dengan jawabannya. "Lumayan kan kalau bekerja bisa dapat uang beli susu anakku, kak". "Kamu sudah punya anak? Berapa usia anakmu? Sekarang anakmu siapa yang jaga?" berebutan pertanyaan ingin keluar dari mulutku untuk lebih mengenal adik ini. "Anakku lagi-laki sudah 9 bulan, sekarang dia di rumah dijaga mamakku." "Suamimu apa kerjanya? Apakah kalian semua tinggal serumah?" "Suamiku supir, tapi aku gak tau dia tinggal dimana. Istrinya tinggal di Tebing, tapi dia juga gak selalu di tebing." "Hmmmm...."
Fani yang hanya sekolah sampai SMP dengan ibu yang sudah 3 kali menikah juga. Katanya bapaknya, suami ibunya sekarang bukan bapak kandungnya. Ketika aku lihat hidupnya, dan aku lihat hidupku...betapa aku harus selalu mengucap syukur sama Tuhan. AKu bisa mempunyai banyak kesempatan dalam hidup ini. Kesempatan berbuat baik, dan juga kesempatan untuk berkembang. Beberapa waktu yang lalu Fani bertanya, "mungkinkah ada cowok yang baik mau sama aku kak?" "Pastilah ada, kamu sabar saja..dan berdoa."
Tadi pagi, adikku Karina bilang ke aku kalau aku harus sering-sering ngobrol sama Fani. Enggak kebetulan dia kerja untukku. "Ajari dia konsep pasangan hidup, trus tanyakan apakah dia punya cita-cita akan anaknya itu," kata Karina. "Kalau kesempatan ini tidak kakak gunakan untuk membukakan pikirannya Fani, maka kehidupannya bisa diprediksi akan sama seperti kehdupan ibunya. Menikah sampai 3 kali, dan ketika usianya 40 tahun dia juga akan sudah punya cucu. Anaknya akan tumbuh apa adanya, dan dia tidak akan berfikir untuk sekolah. Sekolah supaya tahu membaca dan setelah itu bekerja dan menikah. Seperti ini akan berlangsung terus, dan negara ini akan semakin terpuruk karena SDM nya sangat kualitas rendah."
Pagi tadi, aku dan Karina jadi geli sendiri dengan pembicaraan diatas. KAmi membahas Fani sampai menarik kesimpulan secara nasional. Gimana gak Singapore dan malaisia jauh lebih maju, karena SDM Indonesia yang terbaik mereka ambil dan diberikan kesempatan berkarya disana. DI Indonesia tinggal SDM yang gak mutu, tidak mandiri dan juga rentan dengan kejahatan. Gimana gak jadi jahat kalau penghasilan kecil dan biaya hidup semakin tinggi.
Pelajaran hari ini bagiku adalah untuk lebih banyak berbicara hal penting dengan Fani...
Subscribe to:
Posts (Atom)